PDRB Kota Banjar Tahun 2009

Posted by subid_perindagkop On November - 2 - 2010
Produk DOmestik Regional Bruto (PDRB) Kota Banjar Tahun 2009

Cover

Salah satu misi pembangunan Kota Banjar yang cukup menonjol adalah upaya meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) secara maksimal, dan berkelanjutan, sehingga diharapkan dapat segera terwujud visi Kota Banjar sebagai Kota Agropolitan Termaju di Wilayah Priangan Timur. Oleh karena itu, tuntutan kemajuan ekonomi mutlak diperlukan agar distribusi kemajuan ekonomi dapat dinikmati sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Kemajuan pembangunan baik di tingkat nasional maupun daerah senantiasa berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu strategi penting dalam rangka proses pembangunan adalah berupaya meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dengan memacu pertumbuhan sektor-sektor dominan. Hal ini dilakukan dengan asumsi “proses perembesan ke bawah (trickle down effect)” akan terjadi, sehingga kesejahteraan masyarakat dengan sendirinya akan tercapai.

Kemajuan ekonomi secara makro seringkali banyak dilihat dari besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan laju pertumbuhan ekonominya. Secara konsepsi, PDRB menggambarkan seberapa besar proses kegiatan ekonomi (tingkat produktivitas ekonomi) di suatu wilayah, yang dihitung sebagai akumulasi dari pencapaian nilai transaksi dari berbagai sektor ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, PDRB merupakan gambaran nyata hasil aktivitas pelaku ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa. Indikator ini dapat digunakan  sebagai  bahan evaluasi perkembangan ekonomi dan sebagai landasan penyusunan perencanaan pembangunan ekonomi.

Laju Pertumbuhan EKonomi (LPE) Kota Banjar Tahun 2009

Selama kurun waktu lima tahun terakhir laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kota Banjar mengalami pergerakan dalam rentang yang cukup baik. Tabel 6.1. menjelaskan bahwa LPE Kota Banjar periode 2005 – 2009 bergerak positif yaitu dari 4,63 persen di tahun 2005 tumbuh menjadi 4,71 persen di tahun 2006 dan 4,93 persen di tahun 2007. Meskipun capaian kinerja pertumbuhan ekonomi Kota Banjar sedikit mengalami pelambatan di tahun 2008 dimana hanya sebesar 4,82 persen, namun pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Kota Banjar melejit mencapai 5,13 persen.

Kondisi ekonomi global di penghujung tahun 2008 hingga awal tahun 2009 cukup memberi dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi baik di skala nasional maupun daerah.  Kota Banjar yang pada tahun 2008 sedang meretas jalan membuka peluang ekspor komoditas industrinya, seperti kayu olahan, relatif mengalami kendala yang cukup berarti dalam meningkatkan volume produksi karena peluang ekspor semakin kecil, sehingga pada tahun 2009 hasil produksi kayu olahan Kota Banjar kembali diorientasikan pada pemenuhan pasar dalam negeri yang relatif kompetitif. Kebijakan ini berhasil mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Kota Banjar tahun 2009.

Di tingkat propinsi, pertumbuhan ekonomi tahun 2008 mengalami kemerosotan dan makin terpuruk sampai dengan tahun 2009, yaitu dari sebesar 6,48 persen di tahun 2007 menjadi sebesar 5,83 persen di tahun 2008 dan kembali melambat menjadi hanya 4,29 persen di tahun 2009. Hal ini terjadi karena sektor industri Jawa Barat yang selama ini mempunyai laju pertumbuhan yang sangat tinggi dan menjadi salah satu penyokong utama pembentukan PDRB Propinsi Jawa Barat mengalami kontraksi yang cukup hebat sehingga pertumbuhan ekonomi Propinsi Jawa Barat secara total.

Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Propinsi Jawa Barat secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Kota Banjar tergolong stabil dan terkendali. Pelambatan laju pertumbuhan ekonomi Kota Banjar dari tahun 2007 ke tahun 2008 ternyata relatif tidak lebih besar dibandingkan dengan kondisi rata-rata kabupaten/kota lain di Propinsi Jawa Barat pada umumnya.  Orientasi pemenuhan pasar lokal ternyata lebih cocok untuk perekonomian Kota Banjar saat ini. Bahkan perjanjian pasar bebas Cina Asia (ACFTA) yang diberlakukan sejak akhir tahun 2009 pun tidak memberikan dampak yang cukup berarti terhadap perekonomian di Kota Banjar.

Gambar 6.1. mengilustrasikan bahwa secara nominal, selama periode 2005 – 2009, Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB) Kota Banjar mampu meningkat lebih dari setengah triliun rupiah, yaitu dari hanya sebesar Rp. 973,96 milyar di tahun 2005 meningkat menjadi  Rp. 1.592,88 milyar di tahun 2009. Dibandingkan tahun sebelumya, pencapaian PDRB atas dasar harga berlaku di Kota Banjar tahun 2009 mengalami peningkatan sebesar 11,11 persen. Dimana sektor yang mengalami laju peningkatan paling tinggi adalah sektor konstruksi yang mencapai 12,45 persen, kemudian disusul sektor industri pengolahan yang mencapai sebesar 11,01 persen dan sektor pertanian sebesar 10,11 persen.

Sementara Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK) dengan tahun dasar 2000 juga tampak terus tumbuh dari tahun ke tahun. Selama periode 2005 – 2009, PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 bergerak dari Rp. 588,21 milyar menjadi sebesar Rp. 712,21 milyar di tahun 2009 atau mengalami pertumbuhan sebesar 5,13 persen.

Secara agregat, trend laju pertumbuhan ekonomi Kota Banjar selama periode 2005-2009 terlihat terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perekonomian Kota Banjar tidak mudah goyah akibat perubahan gejolak ekonomi nasional dan ekonomi dunia secara global. Salah satu faktor penyebabnya antara lain karena perekonomian Kota Banjar telah mempunyai pondasi ekonomi yang kuat yang ditopang dan digerakkan oleh kemajuan sektor perdagangan dan industri utamanya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang telah menjadi urat nadi ekonomi masyarakat.

Berdasarkan per sektor, tabel 6.2. menunjukkan bahwa semua sektor ekonomi yang membentuk PDRB di Kota Banjar tahun 2009 mengalami pertumbuhan positif kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang menunjukkan pertumbuhan negatif yaitu sebesar -1,23 persen. Kemunduran pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian sangat bisa dimaklumi, karena sumber utama produksi penggalian di Kota Banjar yaitu pasir dan andesit adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan.

Sektor yang tumbuh paling pesat di tahun 2009 adalah sektor bangunan sebesar 8,31 persen kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 7,05 persen, sektor listrik, gas dan air tumbuh sebesar 6,19 persen, sektor industri pengolahan sebesar 5,52 persen, sektor pertanian tumbuh sebesar 4,11 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh sebesar 3,61 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan tumbuh sebesar 3,22 persen dan yang agak lambat pertumbuhannya adalah sektor jasa-jasa yang hanya tumbuh sebesar 1,23 persen.

Besarnya sumbangan masing-masing sektor dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2008-2009 menarik pula dicermati. Sektor-sektor ekonomi yang nilai PDRB ADHK-nya besar tetap akan menjadi penyumbang terbesar bagi laju pertumbuhan ekonomi, walaupun laju pertumbuhan sektor bersangkutan bukan yang terbesar. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran misalnya, walaupun mengalami pertumbuhan terbesar kedua yaitu sebesar 7,05 persen setelah sektor konstruksi, namun mampu memberikan kontribusi laju pertumbuhan terbesar yaitu 2,30 persen terhadap total pertumbuhan. Sebaliknya sektor bangunan walaupun laju pertumbuhannya paling tinggi yaitu sebesar 8,61 persen, namun karena nilai PDRB ADHK-nya relatif kecil sektor ini hanya mampu memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,44 persen. Penyumbang terbesar terhadap LPE tahun 2009 setelah sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah sektor pertanian sebesar 0,83 persen, kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan sebesar 0,64 persen dan sektor jasa-jasa sebesar 0,38 persen.

Dengan melihat besarnya kontribusi keempat sektor tersebut yaitu perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertanian, sektor industri pengolahan dan sektor jasa-jasa terhadap pertumbuhan PDRB Kota Banjar tahun 2009, maka keempat sektor tersebut bisa dikatakan sebagai sektor-sektor dominan di Kota Banjar untuk saat ini. Untuk terus meningkatkan LPE Kota Banjar di masa mendatang diperlukan upaya untuk menggali sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang akseleratif dan reliable sesuai dengan visi dan misi pembangunan Kota Banjar, dengan terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di sektor-sektor dominan tersebut.

Dalam rangka melihat dominasi dan melihat ada tidaknya transformasi struktur ekonomi, sembilan sektor ekonomi sering dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu:

  1. Sektor Primer:     Sektor yang tidak mengolah bahan baku, melainkan hanya mendaya- gunakan sumber-sumber alam seperti tanah dan segala yang terkandung di dalamnya. Sektor ini meliputi Sektor Pertanian serta Sektor Pertambangan dan Penggalian.
  2. Sektor Sekunder:  Sektor yang mengolah bahan baku baik dari Sektor Primer maupun Sektor sekunder itu sendiri, menjadi barang lain yang lebih tinggi nilainya. Sektor ini meliputi Sektor Industri Pengolahan; Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih; dan Sektor Bangunan.
  3. Sektor Tersier : Sektor yang produksinya bukan dalam bentuk fisik, melainkan dalam bentuk jasa. Sektor ini meliputi Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran; Sektor Pengangkutan dan Komunikasi; Sektor Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan; serta Sektor Jasa-jasa.

Tabel 6.3. menyajikan PDRB atas dasar harga berlaku dalam 3 (tiga) kelompok sektor. Terlihat bahwa kelompok tersier masih mendominasi dalam penciptaan nilai tambah di Kota Banjar selama periode 2005-2009. Besaran PDRB atas dasar harga berlaku kelompok tersier di tahun 2005 mencapai sebesar Rp. 595,79 milyar meningkat menjadi sebesar Rp. 696,91 milyar di tahun 2006, kemudian menjadi Rp. 801,93 milyar di tahun 2007, dan menjadi  Rp. 898,33 milyar di tahun 2008. Pada tahun 2009, PDRB atas dasar harga berlaku kelompok sektor tersier makin melejit menjadi 1 ( satu) trilyun lebih yaitu Rp. 1.000,64 milyar atau lebih dari tiga per lima total PDRB Kota Banjar.

Sementara PDRB atas dasar harga berlaku kelompok primer  tahun 2009 Rp. 279,50 milyar atau meningkat sebesar 10,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun terjadi pelambatan pertumbuhan di sektor pertambangan dan penggalian, namun sektor pertanian mampu meningkatkan laju kelmpok sektor primer dengan cukup signifikan. Hal ini karena membaiknya produktifitas sektor pertanian terutama tanaman perkebunan dan perikanan yang didukung adanya stimulus dari pemerintah dalam bentuk penambahan luas tanam dari dana APBD. Sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku kelompok sekunder menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 312,72 milyar di tahun 2009 atau meningkat sebesar 11,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Apabila PDRB dihitung atas dasar harga konstan tahun 2000, kinerja sektor sekunder menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik selama periode 2008-2009 yaitu dari hanya sebesar 3,87 persen di tahun 2008 menjadi  6,46 persen di tahun 2009. Sementara kelompok sektor primer dan tersier cenderung stagnan dengan pertumbuhan yang relatif stabil.  Pada tahun 2008, sektor primer sektor tersier yang tumbuh sebesar 4,20 sedikit melambat menjadi 4,03 persen di tahun 2009. Sementara sektor tersier  yang tumbuh 5,30 persen di tahun 2008 menjadi sebesar 5,12 persen di tahun 2009.

Download Softcopy PDRB Kota Banjar Tahun 2009

Leave a Reply


− one = 0


Bappeda Kota Banjar
Jl. Batulawang No. 26 Kota Banjar - Jawa Barat
Tlp/Fax (0265) 745270
email : bapeda [at] banjar-jabar.go.id

Twitter

    Photos